menuju Neraka. bag1

Miris nggak kalo baca hasil survei terakhir Komisi Perlindungan Anak (KPA) yang mengungkapkan data bahwa 97 persen remaja di Indonesia pernah menonton atau mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman, 62,7 persen PERNAH BERHUBUNGAN BADAN, serta 21 persen remaja telah melakukan aborsi.

Data lain mengungkapkan bahwa 30% pelajar SMP pernah melakukan hubungan badan di luar nikah alias berzina. Masya Allooh.. Na’udzubillaahimindzaalik.

Inilah dampak kebebasan yang begitu diagung-agungkan, begitu banyak Media Televisi,Majalah, Koran, DVD, FIlm, Internet yang menayangakan informasi yang salah, dan ini salah satu dampak kehancuran budaya bangsa akibat tayangan TV yang tidak bermoral. hal ini dapat kita lihat dari perubahan pandangan di masyarakat dimana terjadi perubahan nilai atau cara pandang terhadap pergaulan antar lawan jenis yang ternyata sudah berubah. Kalau dulu, pacaran atau bermesraan di depan umum dianggap tabu, kini hal itu dianggap biasa. Jangankan bersentuhan atau sekadar berciuman, yang lebih dari itu pun bahkan dilakukan, dengan tanpa rasa malu! Pelan tapi pasti, para pelaku pacaran tersebut akhirnya terjerumus kedalam jurang dosa karena melakukan perbuatan yang amat keji dan dilarang oleh Alloh SWT, yaitu BERZINA..!!

Mendekati zina saja sudah dilarang, apalagi melakukannya. Allah pun mengkategorikan zina sebagai dosa besar. Dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 32, Allah SWT sudah memperingatkan hamba-hambanya mengenai zina :

β€œDan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Apabila kita telaah lebih jauh mengenai pacaran ini, ada beberapa tahap yang biasanya terjadi, antara lain:

1. Perjumpaan pertama. Melihat si dia dengan pandangan yang mempesona, senyumannya terus teringat dipikiran, jantung pun berdebar debar karenanya.. sehingga terlahirlah pertanyaan2 dalam hati seperti “Apakah dia mencintaiku?”, “Apakah dia juga merasakan perasaan yang sama terhadapku?”, jika bertemu di internet atau dunia nyata, perasaan bahagia seperti menyeruak dari lubuk hati dan tertumpahkan ke seluruh tubuh.

2. Pengungkapan dan perikatan. Di sinilah terucapkan kalimat2 “Aku cinta kamu selamanya..”, “Aku kan selalu ada untukmu setiap saat..”, “I miss you so much beibehh..” dan kalimat2 lainnya yang menumpahkan perasaan masing-masing. Persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.

3. Pembuktian. Nah disinilah tahap yang sangat membahayakan.. Untuk membuktikan rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih, tak mampu untuk menolak ajakan kekasih, akhirnya apapun diberikan demi cintanya itu. Akhirnya terjadilah hal2 yang mungkin tidak pernah diduga sebelumnya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan BERHUBUNGAN BADAN pun sulit untuk ditolak. Na’udzubillah.

Kebahagiaan dan keindahan yang dirasakan saat berpacaran itu adalah hal yang fana, semu dan menipu. Itu karena dalam setiap detik berpacaran itu, setan selalu mengiringi dan membayangi pelakunya agar apa yang dilakukannya itu selalu tampak indah dan manis. Padahal, disitulah jebakan setan agar cepat atau lambat, pelakunya dapat digoda dan dijerumuskan kedalam jurang neraka dan disiksa bersama setan selama lamanya di akhirat.

 

21 thoughts on “menuju Neraka. bag1

  1. ngeri memang sob…kehidupan skr ini.khususnya glamornya anak muda..bayangkan pcran saja sudah berhubungan badan layaknya suami-istri…(menurut penelitian yg tdk bs disebutkan sumbernya-red) tp yg pasti hal itu akan membawa petaka …

    • terima kasih..!! emang harus dari diri kita masing2..!! pokoknya harus bisa selalu membentengi diri dengan keimanan..!!

  2. Saya rasa ini bukan dampak dari kebebasan itu sendiri. Ini adalah masalah tanggung jawab. Anak-anak itu ndak dididik untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Orang tua (meliputi orang tua kandung di rumah, para guru, dan orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak itu) pun mengabaikan tanggung jawabnya untuk mengawasi anak-anak mereka.

  3. kebebesan remaja sekarang menjadi miris melihatnya. Banyak kasus seperti pada hasil survey di atas memang mencengangkan namun data tidak bisa dipungkiri. Salah siapa, ya salah kita semua karena tidak bisa mengontrol

    • sebenarnya salah mereka yang tidak bisa menjaga dirinya..!! sebenrnya kalo meraka bisa menjaga diri, insyallah tidak akan rusak seperti ini..!!

  4. Lingkungan dan cara pandang memepengaruhi juga….

    Pengalaman sendiri, seorang teman bilang
    “di sini, ya kalau gak hamil dulu kita rugi”
    aduh, bukannya kita, kaum perempuan yang rugi?
    Menurutnya, karena kalau tidak hamil duluan dan setela menikah nanti ketahuan si cew3ek gak bisa punya anak akan di terlantarkan. Notabene, anak sangatlah penting untuk sebuah pernikahan, khususnya anak lelaki…

    Jadi pacaran ya sudah biasa berhubungan layaknya suami istri…pacar bertamu ke rumah lelaki atau sebaliknya, orang tua juga membiarkan mereka tidur sekamar, mereka bilang ” gak apa, kan sudah sama-sama besar ”

    Ini adalah cara pandang dan lingkungan yang membentuk stereotype yang salah terhadap sesuatu.

    Sebagai teman, berusaha memasuki cara pandang berbeda,menyikapi hal ini…tapi kalau sudah mendogma yasudah….akan terus dan terus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s