Cinta Pertama Belum Tentu Cinta Sejati

Dalam sebuah jamuan untuk kampanye makanan non-nasi disajikan beraneka rupa makanan dari singkong. Semua yang hadir bergairah menikmatinya. Bagaimana tidak bila singkong itu diolah dengan mentega, coklat, keju, telur, ayam, sapi, udang, cumi, kepiting, saus tirem dan sejenisnya. Yang kemudian menjadi bahan canda adalah pertanyaan “sebetulnya kita ini menyukai singkongnya atau pelengkapnya?”.

Apakah cinta pertama Anda juga demikian? Tentu saja cinta bukan singkong. Tetapi kenyataannya ada hal-hal yang membuat orang bertanya “sebetulnya kamu ini lebih mencintai orangnya atau pelengkapnya?” Yang saya maksudkan dengan pelengkap cinta di antaranya adalah, –

1. Harta

Jika Anda adalah seorang pria dengan orangtua kaya raya, mudahkah Anda mendapatkan seseorang yang mencintai Anda dengan tulus? Setiap orang bersedia menjadi kawan Anda. Tetapi apakah ada yang betul-betul seorang sahabat bagi Anda? Banyak gadis bersedia menjadi kekasih Anda. Tetapi yang manakah yang betul-betul mencintai Anda sebagai seorang pribadi lepas dari kekayaan orangtua Anda?

Adalah sebuah tragedi bila mendadak saja kekasih memutuskan hubungan dengan Anda yang telah lama berlangsung karena orangtua Anda yang kaya raya mendadak jatuh pailit sehingga rumah pun harus kontrak. Tetapi ini masih lebih baik daripada Anda menikah dengannya dan setelah mempunyai 3 orang anak mendadak ia pergi tanpa pesan karena Anda jatuh miskin.

Ini tidak berarti setiap perempuan yang memadu cinta dengan pria anak orang kaya hanya mencintai harta calon suaminya itu. Saya telah melihat cinta seorang perempuan terhadap suaminya yang tidak berkurang ketika suaminya jatuh sakit dan divonis mati oleh dokter sehingga jatuh miskin. Rumahnya dijual untuk membiayai pengobatannya. Mereka kembali ke kota asalnya dan menyewa sebuah rumah kecil. Untuk menutupi biaya hidup istrinya dengan sepeda motor keliling kota menjajakan makanan kering.

Ketika saya mengunjunginya, tubuh suaminya sudah tinggal kulit pembalut tulang. Daya ingatnya merosot sehingga setiap 5 menit bertanya siapa nama saya. Di samping tempat tidur ada sebuah keyboard, barang kesayangannya yang tidak ikut dijual oleh istrinya. Saya memainkan nada-nada awal sebuah lagu rohani dan bertanya apa judul lagu itu. Ia menjawab betul. Kemudian saya melakukan berulang kali seperti dalam permainan “Berpacu Dalam Melodi”. Ia tak pernah gagal. Sebelum sakit ia adalah organis gereja.

Istrinya bercerita suaminya mendesaknya untuk meninggalkannya agar dapat menikah lagi. Mumpung masih muda, katanya. Memang mereka masih muda dan kecantikan istrinya belum berkurang. Suaminya yang mendengar pengaduan istrinya mengiyakan. “Tidak ada gunanya menunggui aku yang sebentar lagi mati,” katanya. Saya tertawa. Jika begitu istrinya menikah lagi ia langsung meninggal, tak ada masalah. Tetapi bagaimana bila satu hari setelah istrinya menikah lagi dia sembuh? Ah, ini mustahil.

Saya mengagumi pria itu. Tetapi saya lebih mengagumi cinta istrinya. Setiap pagi ia mendudukkan suaminya di kursi roda dan ia tidak malu membawanya berjalan-jalan berkeliling kawasan tempat tinggal mereka.

Cinta sejati Tuhan berkati. Seseorang mengunjunginya dan berdoa di samping tempat tidurnya. Ia merasakan kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya. Dari hari ke hari tubuhnya makin kuat. Sebuah mujizat terjadi. Ia sembuh. Dokter menyarankan ia tidak bekerja berat sehingga ia bekerja di rumah saja menerima reparasi tivi. Ia ikut paduan suara gerejanya. Ketika pendetanya diundang berkotbah di gereja saya, paduan suara ini menyertainya. Ia ada di antara mereka. Tubuhnya tampak sehat dan agak gemuk. Saya tahu ia membawa serta sebuah album yang berisi foto-fotonya ketika terbaring di rumah sakit dan di rumah sewaan menunggu ajal menjemput untuk membantunya bercerita tentang mujizat yang Tuhan berikan kepadanya kepada setiap orang yang dijumpainya. Seharusnya, ia bercerita tentang cinta sejati istrinya yang telah menggerakkan tangan Tuhan berkenan memberi sebuah mujizat baginya.

Jadi, tidak perlu takut mempunyai kekasih anak orang kaya. Hanya saja, waspadalah. Waspadailah diri Anda sendiri. Jagalah agar cinta Anda tidak beralih kepada hartanya. Harta dapat datang dan pergi setiap saat. Tetapi cinta sejati tidak demikian.

Sebaliknya jika Anda kaya, jangan merebut hati kekasih dengan iming-iming harta. Anda bisa menyesal di kemudian hari karena cinta sejati tidak pernah dapat dibeli dengan harta.

2. Kesepian
Cinta lokasi yang muncul karena kesepian tidak hanya terjadi pada artis sinetron. Kita juga bisa kena cinta macam ini. Karena di kantor cewek yang ada hanya satu, yaaaa itulah jodoh saya. Mau cari yang lain? Bagaimana bisa bila waktu berangkat kerja matahari belum nongol dan pulang kerja matahari sudah menghilang. Atau, karena di persekutuan pemuda hanya dia satu-satunya cowok yang mau nganterin gue pulang, gue yakin itu jodoh yang Tuhan sediakan. Nanti dulu, jangan asal dong.

Jangan menikah dengan dasar daripada tidak menikah karena pernikahan di depan altar gereja bukan kayak kontrak rumah yang bisa dibuat tahunan. Cobalah datangi lokasi-lokasi lain untuk sight seeing. Hadirilah acara-acara pemuda di gereja lain. Kalau memang Tuhan tidak menyediakan, lebih baik hidup ngejomblo seumur hidup daripada menikah tetapi tetap merasa kesepian walaupun tinggal serumah dengan seorang suami/istri. Bukankah tidak ada hukum yang mengharuskan orang menikah?

Memang ada peribahasa yang bilang “witing tresno jalaran kulino”. Puji Tuhan kalau si tresno muncul setahun kemudian. Tetapi bagaimana jika si tresno baru muncul pada saat Anda berdua sudah ada di rumah jompo? Rugi besar! Anda tak bisa bareng-bareng pergi tamasya, atau bareng makan steak, atau sharing pengalaman-pengalaman di tempat kerja atau gereja karena sudah mulai pikun. Paling yang bisa dilakukan dengan seru adalah sharing gigi palsu kalau lagi makan bakso karena Anda hanya memiliki satu set gigi palsu untuk dipakai bergantian.

Peribahasa Jawa itu tidak salah, karena maksud sebenarnya adalah cinta bisa muncul karena seringnya dua orang bertemu sehingga bisa makin mengenal kelebihan dan kekurangannya. Dan cinta yang dimaksud adalah cinta pertama atau cinta sebelum pernikahan, bukan cinta di panti werda!

3. Kecantikan
Pernah seorang executive muda bagian promosi mengunjungi daerah tugas saya. Ia seorang gadis muda, tubuhnya bagus, cantiknya tidak kalah dengan bintang filem. Ketika kami mengunjungi beberapa supermarket semua mata memandanginya dengan pandangan kagum. Ketika pandangan mereka beralih ke diri saya, ada yang kagum tetapi lebih banyak bibir yang mencibir. Lelaki jelek kok jalan bareng dengan orang cantik. Waktu ia kembali ke Jakarta, saya mengantarnya ke bandara. Petugas keamanan yang memindai barang-barang bawaan sambil lalu dengan cengengesan berbisik kepada saya, “Paten ‘kali anak Bapak.” Saya tahu ia tidak bermaksud kurang ajar karena ia mengenal saya yang sering ke bandara ini. “Jangan sirik kau. Itu boss aku,” balas saya.

Karena itu saya tahu benar betapa senangnya seorang yang bisa jalan bareng sama co ganteng atau ce cantik. Semua mata memandang kita dengan iri. Kita bangga selangit seperti juara yang berjalan di antara mereka yang telah kita kalahkan. But, be careful! Selidikilah apakah cinta Anda kepadanya berasal semata dari keinginan mendapatkan kebanggaan menjadi seorang pemenang. Jika dasar cinta Anda adalah keinginan menjadi the champion, cinta Anda perlu dipertanyakan durasinya karena kecantikan tubuh akan berlalu karena usia.

Ada susahnya juga punya kekasih yang punya kecantikan papan atas. Hati selalu kuatir kalau ada orang yang menculiknya dari sisi kita. Tetapi kalau dia juga mencintai Anda dengan sepenuh-penuh hati, udah deh, gak usah kuatir. Be happy.

4. Kasihan
Pada mulanya ia datang untuk curhat karena kita adalah satu-satunya orang yang dipercayainya. Mendengar kisah-kisah duka yang tak pernah berhenti dalam hidupnya, kita jatuh kasihan kepadanya. Sampai di sini kita tidak bisa disalahkan karena mempunyai rasa iba adalah watak yang baik. Tapi kita tidak boleh menjadikan rasa kasihan ini menjadi dasar sebuah kisah cinta. Kasihan dapat habis, tapi kasih tidak berkesudahan. Begitu rasa kasihan kita habis, selesai jugalah “cinta” kita.

Bagi mereka yang sudah bersuami/istri, rasa kasihan yang kelebihan dosis terhadap orang yang curhat sering menuntunnya ke perselingkuhan. Perselingkuhan yang muncul bukan karena suami/istrinya telah mengecewakannya, tetapi karena ada seseorang yang begitu memercayainya, begitu menuruti semua nasehatnya tanpa membantah, begitu sengsara hidupnya. Kebanggaan yang terus menggelembung karena ada orang yang (seolah-olah) tidak bisa melanjutkan kehidupan tanpa bantuannya membuat dia mabok sehingga tanpa disadari ia telah merusak hidup perkawinannya sendiri.

5. Sex
Seorang gadis bertanya kepada temannya, “Dicium cowok itu enaknya kayak apa?” Jawab temannya, “Susah aku menjelaskan enaknya. Lebih baik kamu cari pacar biar tahu sendiri kayak apa enaknya ciuman itu.”

Tidak lelaki tidak perempuan, ada yang mencari kekasih bukan karena ingin mencintainya tetapi lebih dikarenakan ingin merasakan ciuman itu seperti apa nikmatnya, “begituan” itu bisa fly sampai langit ke berapa.

Hati-hati bila kekasih Anda berkata, “Kita pasti akan menikah. Lebih baik kita sekarang mempelajari lebih dulu daripada nanti malam pertama kita berantakan.”

Pernah seorang gadis curhat kepada saya. Kekasihnya memohon, “Daripada aku berzinah, daripada aku kena penyakit, demi cintamu kepadaku bantulah aku untuk menurunkan siksaan libidoku.” Keluhan seperti ini bukan untuk pertama kalinya saya dengar. Tetapi kali ini saya geram. Karena, keduanya saya kenal sebagai aktivis gereja saya. Saya tidak menyangka dalam hal ini orang Kristen tidak berbeda dengan yang lain.

Saya menganjurkannya tidak lagi menemuinya karena pria itu telah merendahkan martabatnya sebagai manusia. Ia tak pantas menjadi kekasihnya karena pria itu hanya butuh tubuhnya. Tidak perlu merasa bersalah bila karena penolakannya pria itu berzinah, kena penyakit, tidak lagi ke gereja. Jangan mau diperas atas nama cinta. Tidak perlu menolong orang yang berkubang di lumpur dengan ikut berkubang bersamanya.

Cinta pertama tidak boleh didefinisikan cinta yang membuat seseorang rela untuk pertama kalinya melakukan ML sebelum menikah.

6. Paksaan orangtua
Seorang anak harus menurut kepada orang tuanya, namun dalam batas-batas yang telah digariskan oleh Tuhan. Kalau ortu menganjurkan kita berteman dengan seseorang yang di-highly recommended olehnya, it’s no problem. Tetapi no way bila ortu yang menentukan siapa yang harus kita nikahi. Yang nikah ‘kan kita, bukan papi atau mami. Biar kekasih kita cuma lulusan SMP kecamatan, punya hobi setiap tahun berganti rumah (karena ngontrak), wajahnya mirip bintang film iklan obat diare, tetapi kalau kita cinta dia, ortu minggir dong. Berdoalah dan berikanlah penjelasan kepada mereka, jangan dengan kekerasan.

Tetapi apa yang bisa kita lakukan bila suatu malam papi sambil nangis bilang begini. “Nik, mobil baru yang tahun lalu papi beli buat kamu dan renovasi rumah ini, uangnya papi comot dari kas kantor. Atasan papi udah tau dan ia mau membawa perkara ini ke pengadilan agar ia bisa menyita mobil dan rumah ini. Kecuali, kalo kamu mau jadi menantunya.”

7. Usia
Bila usia sudah menjelang senja dan teman-teman sudah berpasangan, orang akan mulai gelisah (terutama wanita). Banyak orang akhirnya asal tabrak. Hal ini mungkin terjadi karena yang bersangkutan masih belum melepaskan diri dari mitos yang merendahkan status perempuan yang tidak menikah. Ia dianggap banyak kekurangannya, mungkin fisik mungkin karakter, sehingga tidak pernah bisa masuk dalam bursa calon isteri. Tentunya ini juga membuat keluarganya malu karena jadi pergunjingan tetangga sehingga diam-diam mengiklankan anaknya, bahkan pakai bonus segala. Rumah-bebas-cicilan dan voucher-belanja-seumur-hidup.

Kekuatiran hidup melajang seumur hidup bisa saja mendorong seseorang begitu lulus SMA segera mencari kekasih. Ia tidak peduli kekasihnya hanya memenuhi 40% ‘love list’nya. Bila teman-teman mengingatkannya, ia malah balik menasihati, “Sementara kamu belum dapat yang bagus, cukupkanlah dirimu dengan yang ada dulu.” Ini nasihat bagus tapi salah tempat. Jangan nasihat dalam mencari pekerjaan dipakai untuk mencari kekasih. Tetapi inilah kenyataan yang bisa dilihat di bursa jodoh. Memang ada yang beruntung. Setiap ia berganti kekasih, pasti yang baru lebih baik daripada yang sebelumnya (seperti pindah pekerjaan saja). Setelah berganti pasangan beberapa kali, ia mencapai target 100% ‘love list’nya. Tetapi orang bisa kuatir ia gagal men’delete’ pola pikirnya ini setelah menikah.

Tidak ada jeleknya bila Anda melakukan scanning terhadap cinta pertama Anda untuk menyakinkan virus ini tidak ada dalam diri Anda maupun kekasih Anda.

Sabar dan yakinilah bahwa Tuhan sudah menyediakan yang terbaik untuk Anda. Bisa juga yang terbaik itu adalah hidup melajang agar Anda bisa lebih banyak berkarya di ladang pelayanan-Nya.

8. Menyambung keturunan
Sudah tidak jamannya lagi lelaki menikah untuk menjaga kelangsungan nama marga atau “klan”nya (partrilineal). Mobilitas yang tinggi dan banyaknya pernikahan antarmarga membuat adat ini tidak populer lagi. Menghitung jumlah marga Tionghoa tidak terlalu ribet. Tetapi menurut buku “Leluhur Marga-marga Batak,” jumlah seluruh marga Batak, termasuk yang berasal dari suku Nias, ada 416. Sekarang orang hanya mengenal nama marga-marga besar saja.

Tetapi, sisa-sisa adat ini masih ada dalam bentuk “saya menikah untuk dapat anak”. Untuk melanggengkan nama marga? Ah, enggak. Lalu buat apa harus punya anak? Nanti kalau aku sudah tua dan tidak bisa kerja lagi siapa yang menghidupi aku kalau bukan anakku sendiri? Jadi, bisa saja seseorang mencari kekasih dan kelak menikahinya hanya untuk mempunyai anak yang sedari bayi dicuci otaknya agar bersedia menjadi kotak deposito di masa jompo orangtuanya.

Karena itu apa salahnya jika Anda mulai menyelidiki apakah keinginan di atas juga ada dalam hati kekasih Anda. Bertanyalah kepadanya, “Yang, gimana kalo nanti setelah 5 taon nikah kita belon punya momongan? Setuju gak kalo kita ambil anak panti? Di sana malah kita bisa milih sendiri warna kulitnya, hair style-nya, matanya mau sipit kayak lobang celengan apa yang kayak bola pingpong.”

Tetangga saya di Medan walau berusia muda sudah dipensiun sebagai isteri gara-gara tidak bisa punya anak. Ia dibelikan rumah, ia dikirim uang belanja, tetapi ia kesepian. Anak saya tidak mau lagi menyapanya setelah suatu hari ia berkata, “Jangan panggil saya Tante. Panggil Mami ya.”

– o –
Cinta pertama ini indah. Karena itu janganlah membiarkannya tumbuh menjadi cinta buta yang tidak lagi sanggup mewaspadai hal-hal yang bisa merusak keindahannya.

13 thoughts on “Cinta Pertama Belum Tentu Cinta Sejati

  1. Cinta pertama blum tentu Cinta sejati…
    Yups…itulah yang aku dapatkan saat ini…
    aku punya cinta pertama…namun ternyata cinta sejati jauh lebih membahagiakan…

    Aku berharap cinta sejatiku adalah cinta terakhirku..

    salam manis
    Kenanga

  2. yups….cinta pertama mang ga selalu cinta terakhir pula….
    tetapi ada saja yang cinta pertama juga jadi cinta terakhirnya dya…
    semua tergantung dengan nasib kta…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s